Rubroshorea platyclados

(Light Red Meranti)

Rubroshorea platyclados adalah pohon yang termasuk dalam keluarga Dipterocarpaceae dan tumbuh subur di hutan tropis Asia, terutama di Indonesia. Kayunya sangat dihargai karena kekuatannya dan ketahanannya terhadap pembusukan. Spesies ini juga berperan dalam restorasi ekologi dan reboisasi area yang terdegradasi.

Author

Muhammad Nabil Tamam
Researcher in IPB SSRS Association

Isma Nurul Khofifah
Researcher in IPB SSRS Association

Gambar
Ranting daun di Taman Hutan Penelitian Meranti Gunung Dahu


Lokal
Anio, Ketir, Meranti Cingham

Penemu
P.S.Ashton & J.Heck

Nasional
Meranti Bukit

Internasional
Light Red Meranti


Nasional
Tidak ada

IUCN Red List 2020
Near-threatened

Nasional, KLHK
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 8 Tahun 2021 tentang tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, serta pemanfaatan hutan di hutan lindung dan hutan produksi.

CITES
Tidak dinilai


Kingdom
Plantae

Ordo
Malvales

Divisi
Magnoliphyta

Famili
Dipterocarpaceae

Kelas
Magnoliopsida

Genus
Shorea


Habitus
Terestrial, pohon, tinggi mencapai 20,8 m.

Batang
Batang silindris dengan kambium, diameter 27,06–70,03 cm. Penampang melintang bergaris-garis; cabang-cabang muda berwarna hijau gelap. Permukaan kulit kayu berwarna cokelat dengan garis-garis berlekuk, sering ditumbuhi lumut dan fotobiont; kulit kayu bagian dalam berwarna cokelat terang dengan kambium berwarna kekuningan.

Daun
Daun tunggal, berselang-seling dua baris; lamina hijau gelap di bagian atas, hijau muda di bagian bawah, berbentuk oval, pangkal subcordate; ujung runcing, meruncing, dan berujung ekor; tepi utuh; tekstur halus di bagian atas dan bawah; pengikatan berpetiol. Panjang daun 8–13 cm, lebar 2,5–3,7 cm; tangkai daun pendek, 0,9–1,4 cm. Pembuluh daun bercabang dua dengan 15–19 pembuluh sekunder per daun; tulang daun bagian atas menebal, hijau muda; tulang daun bagian bawah jelas, hijau muda. Stipula hadir, panjang 0,4–1 cm, lebar 0,1–0,2 cm.


Kondisi ekologi dan geologi untuk Rubroshorea platyclados terutama terdapat di daerah pegunungan dan wilayah berbukit. Spesies ini secara alami tumbuh pada ketinggian antara 700 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut, meskipun kadang-kadang dapat ditemukan pada ketinggian yang lebih rendah mulai dari 200 mdpl. Pertumbuhan optimal, bagaimanapun, teramati pada ketinggian antara 750 dan 1.000 mdpl. Dalam studi yang dilakukan oleh Ariansyah et al. (2020) di Gunung Dahu, Bogor, pertumbuhan yang kuat dari R. platyclados dikaitkan dengan kondisi yang menguntungkan pada ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut, yang sesuai untuk spesies pegunungan ini. Spesies ini tumbuh subur di lereng, terutama di lereng curam dengan kemiringan antara 10% hingga 45%. Jenis tanah umumnya digambarkan sebagai latosol kuning-merah atau tanah podzolik kuning-merah dengan kisaran pH 5,9–6,8. Rentang suhu ideal adalah 27—32 °C dengan kandungan kelembaban tanah 20—70% (Wardani dan Susilo 2017; Ariansyah et al. 2020).


Indonesia, Malaysia, Filipina


Nilai Ekologi
Rubroshorea platyclados telah menunjukkan tingkat toleransi terhadap berbagai kondisi pertumbuhan. Spesies ini telah menunjukkan kemampuan vegetatif dan reproduktif yang baik bahkan ketika ditanam di lingkungan yang mungkin dianggap kurang ideal dibandingkan dengan habitat aslinya. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Rangkuti et al. (2022) di Cagar Alam Martelu Purba, yang terletak pada ketinggian 1.320 mdpl, menemukan bahwa R. platyclados sangat melimpah, bahkan mendominasi strata pohon. Hal ini menunjukkan adaptabilitas yang menonjol, menjadikannya kandidat yang menjanjikan untuk berbagai penggunaan di luar jangkauan alaminya. Kemampuannya untuk menoleransi lingkungan yang berbeda dapat bermanfaat untuk program rehabilitasi dan upaya reboisasi di lahan yang terdegradasi (Ariansyah et al. 2020).

Nilai Sosial Budaya
Tidak teridentifikasi

Nilai Ekonomi
Rubroshorea platyclados memiliki nilai ekonomi yang signifikan karena berbagai kegunaannya dan kualitas produk yang tinggi. Kayunya, yang berwarna merah kecokelatan, diklasifikasikan sebagai kelas kekuatan III-(IV) dan kelas ketahanan II-(IV) dengan berat jenis 0,67 (Wardani dan Susilo 2017). Hal ini membuat kayunya sangat diminati di pasar Asia Tenggara. Kayunya digunakan untuk berbagai keperluan, seperti konstruksi, balok, bingkai pintu dan jendela, perabotan rumah tangga, bahkan rel kereta api. Selain kayunya, kulit kayu pohon ini mengandung senyawa kimia yang telah ditemukan memiliki potensi sebagai agen antijamur, antibakteri, dan antikanker. Bijinya dari salah satu spesies terkait, S. pinanga, juga merupakan sumber kacang illipe, yang merupakan produk berharga (Ariansyah et al. 2020).


Gambar Utama: Muhammad Nabil Tamam

supported by ssrs research fund

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *