Dipteris conjugata

(Board-leaf Fern, Umbrella FernDamselfly)

Dipteris conjugata merupakan tumbuhan paku terestrial dan beberapa litofit yang hidup secara berkelompok. Tumbuhan paku ini memiliki ciri khas berupa daunnya yang lebar, sehingga sering disebut dengan nama paku payung. Dipteris conjugata tersebar luas di Indonesia. Habitat tumbuhan paku ini berada pada daerah pegunungan dan dataran rendah hutan tropis dengan rentang ketinggian 300–1700 mdpl. Dipteris conjugata berperan sebagai bioindikator lingkungan dan sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional dan tanaman hias.

Author

Danik Septianingrum
Epiphyte and Understory Plant Diversity Specialist Section

Gambar
Ditemukan di vegetasi hutan, Taman Nasional Gunung Halimun Salak


Lokal
Pitagar payung (Dayak)

Penemu
Caspar Georg Carl Reinwardt (1824)

Nasional
Paku Payung

Internasional
Board-leaf Fern, Umbrella Fern, Bua Chaek (Thailand), Pakong Payong (Filipina)


Nasional
Tidak dilindungi

IUCN Red List 2007
Not Evaluated

Nasional, KLHK
Tidak ada

CITES
Tidak dinilai



Habitus
Tumbuhan semak, terestrial dan beberapa litofit, tumbuh secara berkelompok, tinggi tumbuhan berkisar antara 75–150 cm.

Batang
Batang berbentuk bulat, tegak, berwarna hijau dan berwarna hijau kecoklatan pada bagian batang yang lebih tua, permukaan batang diselimuti sisik berwarna coklat, memiliki ruas yang konsisten, dan tinggi batang berkisar antara 70–150 cm atau lebih.

Sorus
Sorus sangat kecil, tersebar pada seluruh permukaan bawah (abaxial) daun, berwarna coklat muda hingga coklat tua. Sorus terdiri lebih dari 15 sporangium yang tersusun melingkar. Spora monolete.

Akar
Akar bersifat kaku dan berwarna putih hingga kecoklatan.

Rhizome
Rhizome menjalar, umumnya ditutupi oleh bulu kaku berwarna merah kecoklatan hingga hitam yang menjadi lebih kasar pada bagian yang lebih tua. Rhizome yang menjalar panjang menyebabkan Dipteris conjugata tumbuh dan tersebar secara luas pada habitatnya.

Daun
Daun terbagi menjadi dua lobus dikotomis, yang selanjutnya terbagi menjadi sembilan lobus atau lebih (bervariasi tergantung pada usia tumbuhan, tumbuhan muda umumnya memiliki lebih sedikit lobus), monomorfik, dan berdaun lebar (makrofil), ujung daun berbentuk attenuate (pada tumbuhan muda ujung daun agak membulat), pangkal daun berbentuk caunate, tepi daun serrate, daun berwarna hijau. Venasi utama daun dikotomis. Tangkai daun membulat, berwarna hijau, permukaan halus, berukuran 4–10 cm.


Dipteris conjugata merupakan tumbuhan paku terestrial dan beberapa litofit (hidup menempel pada batuan tebing). Habitatnya berada pada daerah pegunungan dan dataran rendah hutan tropis. Paku ini tumbuh pada ketinggian 300–1700 mdpl dan tumbuh pada konsisi ekologi dengan kelembaban udara di atas 65% (Patil et al. 2020). Tumbuhan bawah lainnya yang sering ditemukan berada di sekitar habitat Dipteris conjugata yaitu misalnya Nepenthes dan beberapa spesies tumbuhan paku lainnya (Hikmah et al. 2022).


Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua


Nilai Ekologi
Paku payung (Dipteris conjugata) menjadi salah satu bioindikator lingkungan. Hal ini didasarkan pada karakteristik spesies yang hanya tumbuh pada habitat dengan kelembaban tinggi, sehingga ketika keberadaannya tidak ditemukan pada habitatnya, maka terjadi perubahan atau kerusakan pada habitat tersebut (Febrianti et al. 2024). Hal ini terbukti pada penelitian oleh Lok et al. (2009) yang menyatakan bahwa populasi Dipteris conjugata di Singapura menjadi langka akibat kerusakan habitat Dipteris conjugata oleh bencana alam seperti tanah longsor maupun aktivitas antropogenik seperti reklamasi, konstruksi bangunan, dan alih fungsi lahan.

Nilai Sosial Budaya
Dipteris conjugata merupakan warisan etnobotani yang pada beberapa negara di Asia Tenggara sering dikenal dengan nama yang berbeda, seperti paku payung (Indonesia), bua chaek (Thailand), dan pakong payong (Filipina). Nama tersebut menunjukkan adanya keterikatan budaya masyarakat dengan tumbuhan ini. Dipteris conjugata sering digunakan sebagai payung darurat oleh masyarakat Filipina karena daunnya yang lebar dan tahan air (Muhaimin dan Damayanto 2022). Masyarakat setempat di Indonesia juga memanfaatkan Dipteris conjugata sebagai obat tradisional (Nikmatullah et al. 2020).

Nilai Ekonomi
Bentuk daun yang lebar serta unik, menjadikan nilai estetika yang khas pada Dipteris conjugata sehingga tumbuhan ini sering dijadikan sebagai tanaman hias (Sadono 2018). Daun Dipteris conjugata mengandung senyawa flavonol yang berguna untuk mengobati penyakit kulit dan infeksi bakteri (Fitrah et al. 2014; Nikmatullah et al. 2020).


SUMBER

Gambar Utama: @asyari_hutan


Scientific Information Database

Take your select

Species physiology DATABASE

Species
GEOHABITAT DATABASE

Species
genbank DATABASE

Species
biomass database

Species
biopharmaca database

Species
profile article

this spesies collection
under funded by sSRS RESEARCH Fund

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *