Trichaleurina javanica

Trichaleurina javanica adalah jamur berbentuk oval (seperti cangkir) dari divisi Ascomycota yang memiliki tekstur kenyal dengan bagian luar berwarna abu-abu kecoklatan dan dilengkapi dengan apotesium (reproduksi seksual) berwarna kuning-oranye yang mencolok di permukaan atasnya. Jamur ini tumbuh di daerah tropis dan merupakan saprofit pada batang pohon yang mati atau membusuk dalam kelompok (besar atau kecil). Di beberapa daerah, jamur ini dikenal dengan nama lokal seperti jamur mata kerbau, jamur mangkuk merah, jamur piala, Toyuntana (saat muda), atau Tanouu (saat dewasa). Jamur ini dipercaya sebagai obat tradisional serta pangan lokal fungsional.

Author

Nurah Anggraeni
Macrofungi Diversity Specialist Section in SSRS Indonesia Biodiversity Hub


Lokal
Jamur mata kerbau, Jamur mata rusa, Jamur cangkir, Jamur piala, “Toyuntana” ketika muda, “Tanouu” ketika mekar sempurna.

Nasional
Jamur mata kerbau

Internasional
Tidak ada

Sinonim
Galiella javanica

Basionim
Sarcosoma javanicum

Penemu
Rehm, 1893


Nasional
Tidak ada

IUCN Red List 2019
Tidak ada

Nasional, KLHK
Tidak ada

CITES
Tidak dinilai


Kingdom
Fungi

Ordo
Pezizales

Divisi
Ascomycota

Famili
Pyronemataceae

Kelas
Pezizomycetes

Genus
Trichaleurina


Tubuh buah
Tubuh buah muda berbentuk bulat hingga oval dengan bagian basal meruncing menyerupai kerucut, berwarna cokelat tua yang semakin menggelap ke arah dasar. Pada fase dewasa, tubuh buah berkembang menjadi lebih kerucut dengan bagian basal menyempit membentuk tangkai semu berwarna hitam yang menebal dan berfungsi sebagai alat perlekatan pada substrat. Permukaan tangkai relatif halus dengan beberapa lekukan. Permukaan atas tubuh buah dilengkapi apotesium sebagai struktur reproduksi seksual. Apotesium berbentuk bola hingga menyerupai cangkir dan semakin melebar hingga hampir rata sempurna seiring pertumbuhannya. Warna apotesium oranye muda, dengan bagian dalam berdaging, kenyal menyerupai karet, dan sedikit keras. Kulit apotesium berwarna keabu-abuan sangat gelap dan dilengkapi rambut-rambut eksternal berwarna coklat hingga coklat tua, berukuran 25–100 × 5–10 μm (Putra & Gloris 2025; Hermawan et al. 2020).

Tekstur
Lunak dan kenyal (seperti jelly), mengandung banyak air serta berlendir ketika dibelah

Aroma
Tidak ada

Rasa
Tidak ada

Sifat hidup
Berkelompok (dalam kelompok kecil maupun besar).


Edible.


Trichaleurina javanica umumnya ditemukan di hutan tropis yang lembap dan ternaungi atau hutan subtropis dengan tingkat kelembapan tinggi. Jamur ini tumbuh pada substrat seperti ranting yang patah, dahan yang jatuh, atau batang pohon yang mati atau membusuk di lantai hutan. Beberapa contoh pohon yang sering berfungsi sebagai substrat untuk jamur ini termasuk pohon asam jawa (Tamarindus indica) (Patel et al. 2018), pohon beringin (Ficus sp.), dan pohon Afrika (Maesopsis eminii). Frekuensi jamur ini meningkat selama musim hujan, sehingga bersifat musiman, dan mungkin tidak ditemukan sepanjang tahun.


Indonesia (Jawa Barat, Sulawesi, Kalimantan Barat), Malaysia, India, China, Singapura, Hongkong, Filipina, Australia, Mozambique, Seychelles, Madagascar, Kenya, Benin, Fiji, Congo, Kerajaan Britaina Raya dan Irlandia Utara.


Nilai Ekologi
Trichaleurina javanica memiliki peran ekologi penting sebagai jamur saprotrof yang berperan dalam penguraian bahan organik di lantai hutan, terutama dahan, ranting atau batang pohon mati yang telah melapuk. Melalui aktivitas dekomposisi tersebut, jamur ini berkontribusi pada daur ulang unsur hara seperti karbon dan mineral, sehingga mendukung kesuburan tanah dan keberlanjutan ekosistem hutan tropis. Keberadaannya juga mencerminkan kondisi mikrohabitat yang lembap dan alami, sehingga dapat digunakan sebagai bioindikator ekosistem hutan yang masih asri (seimbang), khususnya pada lingkungan dengan akumulasi bahan organik yang tinggi.

Nilai Sosial Budaya
Secara sosial budaya, Trichaleurina javanica berkaitan erat dengan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat lokal, misalnya oleh suku Dayak Maanyan, Kalimantan Barat (Putra & Gloris 2025). Selain dikonsumsi sebagai jamur pangan musiman, jamur ini dipercaya memiliki khasiat pengobatan, khususnya cairan hasil perasan tubuh buahnya yang dimanfaatkan sebagai pembersih mata dan tonik rambut. Selain itu, bagian ampasnya yang dicincang halus juga telah digunakan sebagai campuran pakan babi (Putra & Gloris 2025;Yusran et al. 2023). Sebagai pangan lokal, jamur mata kerbau dikonsumsi dengan cara ditumis, dibuat sup, atau divariasikan dengan berbagai bumbu masak lainnya. 

Nilai Ekonomi
Trichaleurina javanica termasuk salah satu jamur liar yang dapat dimakan (edible) dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat setempat (Yusran et al. 2023). Teksturnya yang kenyal dan disukai konsumen menjadikan jamur ini sebagai salah satu jamur liar favorit, sehingga meningkatkan permintaan pasar. Namun, karena tumbuh secara musiman dan saat ini sulit dibudidayakan, jamur ini umumnya dijual segar di pasar tradisional dengan harga yang relatif kompetitif. Di pasar tradisional Indonesia, jamur ini dijual dengan harga sekitar Rp 10.000 per kg atau Rp 15.000 per 2 kg, tergantung pada tingkat kesegaran dan lokasi penjualan.


Gambar Utama: Nurah Anggraeni

supported by ssrs research fund

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *