
Etlingera elatior
(Torch Ginger, Torch Lily, Philippine Waxflower, Porcelein Rose)
Etlingera elatior, yang dikenal di Indonesia sebagai kecombrang, termasuk dalam keluarga Zingiberaceae. Tanaman ini merupakan herba ber-umbi tahunan dengan batang semu berwarna cokelat kehijauan dan tumbuh tegak dalam rumpun. Ciri utama tanaman ini adalah bunga berbentuk obor berwarna merah. Etlingera elatior memiliki banyak kegunaan, dan bagian-bagiannya digunakan oleh masyarakat sebagai makanan, obat-obatan, dan hiasan.
Author
Danik Septianingrum
Epiphyte and Understory Plant Diversity Specialist in SSRS Indonesia Biodiversity Hub
Gambar
Mumuger Social Forestry Area (SFA), Ketol District, Central Aceh, Regency, Aceh
PENAMAAN
Lokal
Bungongkala (Aceh), Asam cekala/cikala (Karo), Kencong atau Kincung (North Sumatera), Kecombrang or Bongkot (Java), Honje (Sundanese), Kecicang (Bali), Sambuang (West Sumatera), Puwa Kijung (Minangkabau), Katinbung (Makassar), Petikala (Ternate), Bunga Rias (Tapanuli), Kumbang sekala (Lampung), Wulae (Southeast Sulawesi).
Penemu
William Jack, 1822
Nasional
Kecombrang
Internasional
Torch Ginger, Torch Lily, Philippine Waxflower, Porcelein Rose
STATUS KONSERVASI
Nasional
Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
IUCN Red List 2018
Data Deficient
Nasional, KLHK
Tidak ada
CITES
Tidak dinilai
TAKSONOMI
Kingdom
Plantae
Ordo
Zingiberales
Division
Streptophyta
Famili
Zingiberaceae
Kelas
Equisetopsida
Genus
Etlingera
MORFOLOGI
Habitus
Tumbuhan herba terrestrial, perennial, dengan rimpang berumbi, tinggi tanaman mencapai 5 m.
Batang
Batang berupa rimpang dengan pseudostem yang dapat mencapai tinggi 5–6 m.
Akar
Tanaman ini memiliki tipe perakaran serabut.
Batang
Tipe perbuahan syncarp. Tipe buah capsule, berwarna merah hingga pink.
Daun
Daun tunggal, berbentuk lanset (Linnaeus); pangkal daun berbentuk oblique; ujung daun berbentuk acuminate; tepi daun berbentuk sinuate, repand; pelekatan daun subsessile, sheathing; susunan daun alternate; tekstur daun pubescent; warna daun bagian atas moderate olive green, bagian bawah strong yellow green. Panjang daun berkisar 68–98 cm, dengan lebar daun 18,5–20 cm. Tangkai daun berbulu. Panjang tangkai daun 3–3,5 cm. Venasi daun pinnate.
Bunga
Perbungaan berupa capitulum, berwarna pink krem hingga putih. Panjang perbungaan 29 cm. Warna bunga merah muda dan jingga di bagian tepi. Panjang bunga 12 cm. Tipe tangkai bunga basal, berwarna krem hingga cokelat gelap. Tipe bract petaloid, involuclar, merah dengan tepi putih.
KARAKTERISTIK HABITAT
Etlingera elatior umumnya ditemukan di ekosistem hutan dataran rendah dan hutan lembap (di Sumatera) (Novitasari 2023). Spesies ini umumnya tumbuh pada ketinggian 200–500 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan optimal rata-rata sedang hingga tinggi (1.500–2.500 mm/tahun), suhu harian rata-rata 22,9–32,5°C, dan kelembapan relatif 70–80% (Choon dan Ding 2016). Etlingera elatior dapat tumbuh optimal pada pH berkisar 5,5 hingga 6,5, dengan kandungan karbon tinggi (±2%), dan adanya kapur dalam tanah. Faktor-faktor abiotik seperti ketinggian, curah hujan, suhu, kelembapan, pH, kandungan karbon, dan tekstur tanah mempengaruhi pertumbuhan Etlingera elatior dan juga memengaruhi kandungan senyawa bioaktifnya (Tee et al. 2025).
GEOGRAFIS HABITAT
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Papua
NILAI SPESIES
Nilai Ekologi
Etlingera elatior berperan sebagai indikator lingkungan, khususnya sebagai indikator kelembaban suatu area. Hal ini dikarenakan Etlingera elatior membutuhkan kelembaban tinggi untuk bertahan hidup, sehingga ketika spesies ini ditemukan, hal itu menunjukkan bahwa area tersebut cukup lembab. Selain itu, keberadaan spesies ini juga menandakan bahwa suatu daerah memiliki kandungan kapur yang tinggi, karena Etlingera elatior membutuhkan kapur untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan bunga dan buahnya (Laela dan Ammurabi 2024).
Nilai Sosial Budaya
Etlingera elatior merupakan simbol identitas dan kearifan lokal dalam masakan daerah di Indonesia. Bagian-bagian tanaman seperti kuncup bunga, batang muda, perbungaan, dan buah, digunakan sebagai bahan dalam masakan tradisional Aceh seperti asam laksa, nasi kerabu, nasi ulam, arisk ikan mas, sayur asam, limbek, pliek u curry, lambai, dan lainnya. Selain itu, spesies ini juga banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional, seperti di Aceh, yaitu pareng, lampok, makjun sejuk, dan tapal. Bunga spesies ini juga sangat indah, sehingga masyarakat sering menggunakannya sebagai hiasan (Saudah et al. 2022).
Nilai Ekonomi
Berdasarkan berbagai kegunaannya, Etlingera elatior memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Etlingera elatior secara luas digunakan masyarakat sebagai penguat rasa, bahan masakan, dan rempah-rempah. Banyak orang juga menggunakan tanaman ini (bagian rimpang, batang, daun, bunga, buah) untuk pengobatan, seperti untuk sakit telinga, demam, sakit mata, sakit perut, jaundice, sakit tenggorokan, rematik, dan masalah pernapasan (Saudah et al. 2021; Shahid-Ud-Daula dan Mohammad 2019). Etlingera elatior juga memiliki potensi komersial sebagai bahan dalam kosmetik, terutama skin bleaches dan anti-aging lipsticks. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai bahan dalam sabun, sampo, dan parfum. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam Etlingera elatior sangat beragam, termasuk aktivitas antioksidan, fenolik, dan flavonoid (Aliaa et al. 2017). Dengan nilai ekonomi yang tinggi, spesies ini harus dibudidayakan dan kini sedang dikembangkan salah satunya melalui sistem agroforestri, sehingga harapannya dapat berkelanjutan bagi spesies itu sendiri dan masyarakat (Purwoko et al. 2019).
SUMBER
Gambar Utama: @asyari_hutan


Leave a Reply