Etlingera alba

Etlingera alba atau biasa disebut dengan nama lokal sebagai tikala atau kecombrang memiliki bunga berwarna merah muda yang terdapat dalam susunan braktea yang rapat. Tumbuhan ini dapat hidup di hutan primer dan sekunder serta hutan yang terganggu. Buah dari Etlingera alba tidak hanya berperan sebagai sumber makanan bagi fauna pemakan biji, tetapi juga umum dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Etlingera alba memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku dalam dunia farmasi karena memiliki aktivitas farmakologi yang cukup luas.

Author

Danik Septianingrum
Epiphyte and Understory Plant Diversity Specialist in SSRS Indonesia Biodiversity Hub

Gambar
Kebun Sambal, Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah


PENAMAAN

Lokal
Tikala (Sulawesi Tengah), Galoba papua, Potmepini, atau Gitipi tana (Maluku).

Penemu
Carl Ludwig Blume (1827)

Nasional
Tikala, Kecombrang

Internasional


STATUS KONSERVASI

Nasional
Tidak dilindungi.

IUCN Red List 2018
Least Concern

Nasional, KLHK
Tidak dilindungi (Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi)

CITES
Tidak dinilai


TAKSONOMI


MORFOLOGI

Habitus
Tumbuhan herba, terestrial dan tumbuh membentuk rumpun (clump) yang rapat, tinggi tumbuhan berkisar antara 2,5-3,7 m.

Batang
Batang sejati berupa rimpang yang berjenis pachymorph sympodial/clumping, berwarna coklat pucat hingga coklat tua; batang semu (pseudostem) tumbuh berumpun rapat, berwarna hijau tua pada pangkal dan semakin muda mendekati bagian ujung, permukaan pseudostem glabrous, pseudostem memiliki diameter dengan rentang 2,9-7 mm.

Akar
Akar adventif dan tumbuh langsung dari rimpang.

Buah
Perbuahan bertipe compound (agregate) fruit, berukuran panjang 14,4 cm dengan lebar 9,1 cm; tangkai perbuahan berwarna coklat dengan panjang 8,4 cm; buah berbentuk berry, berwarna kuning hingga hijau ketika masih muda dan berwarna coklat ketika sudah tua atau matang; diameter buah 0,84 cm.

Biji
Biji banyak, berwarna hitam, dan diselubungi aril yang berwarna putih bening.

Daun
Daun tunggal, entire, susunan daun alternate. Lamina berbentuk oblonglanceolate (Linnaeus), bagian adaksial lamina berwarna hijau muda hingga hijau tua, bagian abaksial berwarna hijau pucat, permukaannya glabrous dan mengkilap, pangkal lamina berbentuk rounded-obtuse, apeks lamina berbentuk acuminate, margin lamina berupa ciliate, venasi lamina berupa paxillate, panjang lamina 51-71,5 cm, lebar lamina 17-18,7 cm; midrib berwarna lebih terang yaitu kuning pucat; tangkai daun berjenis sheathing, berwarna hijau muda dengan ligule yang berwarna coklat keabu-abuan, ligule memiliki indumentum bertipe pubescent, panjang 16-27 cm x lebar 5,5-7 cm.

Bunga
Perbungaan tumbuh langsung dari rimpang atau pangkal pseudostem, terpisah dari daun, berbentuk menyerupai kerucut dengan berukuran panjang 10,1 cm x lebar 4 cm; braktea berlapis-lapis dan rapat untuk melindungi bunga-bunga kecil (floret) di dalamnya, berwarna hijau kecoklatan; tangkai bunga memiliki panjang 2-3,5 cm; calyx tube berjumlah dua dan tersusun secara paralel, berwarna coklat muda, panjang 1,8 x 0,3 cm; corolla berwarna merah muda, berukuran panjang 3,2 cm x lebar 0,2 cm; anther berwarna putih dan memiliki panjang 0,2 cm dengan lebar 0,1 cm; filamen berwarna putih dengan panjang 3,2 cm; stigma berwarna putih dan memiliki panjang 0,5 cm; style berwarna putih dengan panjang 2,5 cm.


KARAKTERISTIK HABITAT

Etlingera alba ditemukan tumbuh di hutan primer dan sekunder dengan suhu 30,1 ˚ C dan kelembaban 71,2%, tepi hutan atau area perkebunan atau penggembalaan dan di antara habitat bambu (Poulsen 2012). Etlingera alba terutama yang berada di hutan dataran rendah Sulawesi dapat tumbuh di ekosistem yang terganggu karena Etlingera alba merupakan spesies yang tangguh dan toleran terhadap tingkat gangguan yang tinggi (A.D. Poulsen pers. comm. 2018).


GEOGRAFIS HABITAT

Sulawesi, Maluku, Papua


NILAI SPESIES

Nilai Ekologi
Etlingera alba memiliki peran ekologi dalam ekosistem, yaitu buah Etlingera alba sebagai sumber makanan beberapa fauna di sekitarnya seperti tupai dan hewan pemakan biji lainnya. Hal ini dapat menjadi salah satu kemungkinan dari dasar ditemukannya populasi Etlingera alba yang cukup banyak, dikarenakan penyebaran benihnya dibantu oleh fauna pemakan biji.

Nilai Sosial Budaya
Bagian dari Etlingera alba seperti kuncup daun dimanfaatkan oleh masyarakat setempat pada beberapa daerah tertentu sebagai obat–obatan tradisional.

Nilai Ekonomi
Aril yang mengelilingi biji pada buah Etlingera alba banyak dikonsumsi oleh masyarakat setempat ketika sudah matang. Etlingera alba memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku dalam dunia farmasi karena memiliki aktivitas farmakologi yang cukup luas diantaranya yaitu ekstrak rimpangnya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen penyebab diare yaitu Cronobacter muytjensii (Fristiohady et al. 2020), mengandung antioksidan yang dimanfaatkan dalam pembuatan formulasi sistem vesikel elastik surfaktan nonionik (Indalifiany et al. 2023), kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, dan fenol yang terdapat pada ekstrak rimpang Etlingera alba memiliki peran penting salah satunya yang disebutkan pada penelitian Hamsidi et al. (2021) sebagai penghambat sitokin proinflamasi. Aktivitas farmakologi pada Etlingera alba masih terbatas dan perlu dikaji lebih lanjut untuk pemanfaatannya secara lebih meluas.


SUMBER

Gambar Utama: @daniksnnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *