
Blumeodendron subrotundifolium
(Keterung)
Blumeodendron subrotundifolium merupakan spesies pohon hutan hujan dari famili Euphorbiaceae (suku kastuba-kastubaan) yang dikenal dengan habitus pohon besar mencapai ketinggian 50 meter serta daun elips kaku yang berubah menjadi cokelat mengkilap saat kering. Tumbuhan ini buah kapsul berkayu yang berfungsi sebagai sumber pakan bagi fauna hutan. Pohon ini tumbuh di hutan dipterokarpa dataran rendah, hutan rawa gambut, hingga hutan submontana berlumut dan dapat ditemukan di wilayah Malesia, termasuk Semenanjung Thailand, Sumatra, Kalimantan, dan Filipina dengan variasi morfologi ukuran daun yang mencolok antar populasinya.
Author
Muhammad Nabil Taman
Researcher in IPB SSRS Association, IPB University
Raihan Abhinaya Iskandar
Researcher in IPB SSRS Association, IPB University
Danik Septianingrum
Epiphyte and Understory Plant Diversity Specialist Section
Muhammad Hisyam Fadhil, S.Si., M.Si
Carnivorous Plant Diversity Specialist Section
Gambar
Ditemukan di Vegetasi Hutan, Taman Nasional Gunung Halimun Salak
PENAMAAN
Lokal
Babak, Basi, Madang soenting, Makoera (Sumatera), Duhat, Kahingai, Sibau (Kalimantan)
Penemu
Elmer, 1913
Nasional
Keterung
Internasional
Keterung
STATUS KONSERVASI
Nasional
Tidak dilindungi
IUCN Red List (2020)
Least Concern (LC)
Nasional, KLHK
Tidak ada
CITES
Tidak dinilai
TAKSONOMI
MORFOLOGI
Habitus
Habitus berupa pohon.
Batang
Batang utama memiliki kulit luar berwarna cokelat, cokelat kekuningan, hingga abu-abu kecokelatan, dengan tekstur beralur (fissured), bersisik, atau mengelupas.
Daun
Petiol memiliki tipe indumentum berupa rambut lepidote berwarna oranye yang cepat menghilang (early glabrescent). Tinggi pohon 12,8–15,75 m (c.) dengan diameter batang (dbh) 27,06–49,34 cm. Lamina berupa daun tunggal yang tersusun berseling (alternate), berhadapan (subopposite), hingga dalam karangan semu (pseudo-whorls). Ujung daun acuminate hingga cuspidate, dengan pangkal daun emarginate, membulat (rounded), hingga cuneate. Tepi daun recurved (melengkung ke bawah), dengan permukaan halus dan kaku (coriaceous hingga very coriaceous). Permukaan adaxial berwarna hijau tua dengan venasi berwarna hijau muda, sedangkan permukaan abaxial berwarna hijau muda yang lebih terang dengan venasi putih kehijauan. Tipe venasi anastomosing dan reticulate dengan 10—13 saraf sekunder yang menonjol di bagian bawah. Panjang petiol 3,4–0,69 cm. Panjang helaian daun 16,19–6,44 cm dengan lebar 9,29–4,36 cm.
KARAKTERISTIK HABITAT
Habitat Blumeodendron subrotundifolium berada pada ekosistem hutan dipterokarpa, hutan hijau abadi (evergreen forest), hutan gambut, hutan emperan, dan hutan submontana. Tumbuhan ini dapat tumbuh di tanah lempung berpasir, lempung berliat, tanah aluvial, lapisan batuan keras (bedrock), dan batu pasir dengan ketinggian 1200 mdpl. Tumbuhan ini dapat hidup pada rentang suhu 30.43 ± 3.57 °C dengan curah hujan sebanyak 3158.49 ± 553.86 mm per tahun.
GEOGRAFIS HABITAT
Kalimantan, Sumatera
NILAI SPESIES
Nilai Ekologi
Blumeodendron subrotundifolium merupakan spesies pohon dominan di ekosistem hutan rawa gambut dan dipterokarpa dengan Indeks Nilai Kepentingan (IVI) mencapai 22,46%, serta membentuk asosiasi ekologis yang kuat dengan Pandanus atrocarpus (Rosalina et al. 2014). Spesies ini memiliki daya adaptasi luas dari dataran rendah hingga ketinggian 1200 mdpl dan berperan vital sebagai penyimpan karbon serta penjaga struktur kanopi hutan (Ottens dan Van Welzen 2016; DLH Kalteng 2023). Keberadaannya sangat penting bagi suksesi alami karena mampu bertahan dan beregenerasi dengan baik di lahan hutan bekas tebangan (Rosalina et al. 2014).
Nilai Sosial Budaya
Pohon ini memiliki hubungan sosiokultural yang erat dengan masyarakat lokal yang tercermin dari nama daerah seperti Bantas dan Medang Koenik yang menunjukkan pengakuan tradisional atas keberadaannya (Ottens dan Van Welzen 2016). Pelestariannya telah dimasukkan ke dalam instrumen kebijakan daerah untuk melindungi kearifan lokal dan hak masyarakat hukum adat dalam pengelolaan lingkungan (DLH Kalteng 2023). Sebagai spesies kunci di hutan primer, pohon ini menjadi simbol kemitraan antara pemerintah, industri, dan komunitas lokal dalam menjaga warisan alam serta nilai estetika hutan Indonesia (Rosalina et al. 2014; DLH Kalteng 2023).
Nilai Ekonomi
B. subrotundifolium memiliki kayu yang bernilai tinggi secara ekonomi dan digunakan sebagai bahan konstruksi karena sifatnya yang sangat keras dan kuat (Ottens dan Van Welzen 2016). Genus ini juga memiliki potensi bioprospeksi farmakologis yang besar, merujuk pada kerabat dekatnya (B. tokbrai) yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan sitotoksik terhadap sel kanker payudara (Adi et al. 2021). Pemanfaatannya kini diintegrasikan dalam rencana pengelolaan keanekaragaman hayati daerah untuk mendukung ekonomi berkelanjutan berbasis jasa lingkungan dan penyediaan pakan alami bagi fauna hutan (Ottens dan Van Welzen 2016; DLH Kalteng 2023).
SUMBER
Gambar Utama: @mnabiltamam
Scientific Information Database
Take your select

Species physiology DATABASE

Species
GEOHABITAT DATABASE

Species
genbank DATABASE

Species
biomass database

Species
biopharmaca database





Leave a Reply