
Etlingera aulocheilos
Etlingera aulocheilos merupakan salah satu tumbuhan endemik Sulawesi yang terancam dan identik dengan bunganya yang berwarna kuning dan buah mudanya yang berwarna merah. Etlingera aulocheilos tumbuh pada hutan primer dataran rendah dan hutan sekunder dengan vegetasi yang terganggu. Spesies ini memiliki peran ekologis sebagai sumber daya dan mikrohabitat bagi organisme lain di sekitarnya. Masyarakat lokal umumnya memanfaatkan Etlingera aulocheilos sebagai camilan hutan maupun pengobatan tradisional.
Author
Danik Septianingrum
Epiphyte and Understory Plant Diversity Specialist in SSRS Indonesia Biodiversity Hub
Gambar
Pinggir jalan setapak jalur Air Terjun Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah
PENAMAAN
Lokal
Tikala (Sulawesi Tengah).
Penemu
Axel Dalberg Poulsen (2012)
Nasional
Kecombrang, Tikala
Internasional
–
STATUS KONSERVASI
Nasional
Tidak dilindungi.
IUCN Red List 2018
Endangered
Nasional, KLHK
Tidak dilindungi (Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi)
CITES
Tidak dinilai
TAKSONOMI
MORFOLOGI
Habitus
Tumbuhan herba, terestrial dan tumbuh dalam rumpun (clump), tinggi tumbuhan dewasa dapat mencapai 3,3 m.
Batang
Batang sejati berupa rimpang yang berjenis pachymorph sympodial/clumping, berwarna coklat hingga coklat kemerahan; batang semu (pseudostem) tumbuh menjulang langsung dari rimpang, berwarna hijau kekuningan dengan tanda hitam tegas pada bagian munculnya daun, permukaan pseudostem glabrous, beralur lurus yang rapat, pseudostem memiliki diameter dengan rentang 6,8-16 mm.
Akar
Akar adventif dan tumbuh langsung dari rimpang dan berwarna coklat.
Buah
Perbuahan bertipe compound (agregate) fruit, berukuran panjang 12 cm dengan lebar 4 cm; tangkai perbuahan berwarna coklat hingga putih dengan panjang 4 cm; buah berwarna merah ketika masih muda dan diselimuti dengan bulu-bulu halus berwarna coklat, buah berwarna coklat ketika sudah tua atau matang; diameter buah 2 cm.
Biji
Biji banyak, berwarna putih dan hitam ketika matang, dan diselubungi aril yang berwarna merah.
Daun
Daun tunggal, entire, susunan daun alternate. Lamina berbentuk lanceolate (Linnaeus), bagian adaksial lamina berwarna hijau muda hingga hijau tua, bagian abaksial berwarna hijau pucat, permukaannya glabrous dan mengkilap, pangkal lamina berbentuk obtuse, apeks lamina berbentuk acute-attenuate, margin lamina berupa repand, venasi sekunder lamina berupa paxillate, panjang lamina 39-49,3 cm, lebar lamina 8,9-11,6 cm; midrib berwarna lebih terang yaitu kuning pucat; tangkai daun berjenis sheathing, berwarna hijau kekuningan; ligule berwarna hitam tegas, panjang 2,5-7,5 cm x lebar 1,2-2 cm.
Bunga
Perbungaan tumbuh langsung dari rimpang atau pangkal pseudostem di dekat permukaan tanah, terpisah dari daun, berukuran panjang 10-16,5 x lebar 14-23,1 cm; braktea berwarna coklat; tangkai bunga memiliki panjang 5 cm; calyx tube berjumlah dua dan tersusun secara paralel dan berwarna merah muda, panjang 1,1 x 0,3 cm; corolla berwarna kuning cerah dan tidak memiliki indumentum, berukuran panjang 2,1 cm x lebar 0,6 cm; anther berwarna putih dan memiliki panjang 0,5 cm dengan lebar 0,1 cm; filamen berwarna putih dengan panjang 1,6 cm; stigma berwarna putih dan memiliki panjang 0,6 cm dengan diameter 0,06 cm; style berwarna putih dengan panjang 1,6 cm.
KARAKTERISTIK HABITAT
Etlingera aulocheilos ditemukan tumbuh di hutan dataran rendah primer dan sekunder di vegetasi yang terganggu pada zona transisi antara hutan hujan dan permukiman penduduk (Poulsen 2012). Pada beberapa eksplorasi botanis yang dilakukan, Etlingera aulocheilos tumbuh pada tanah ultramafik dan tanah yang berbasis batuan kapur dengan suhu 25–26 ˚ C dan kelembaban 84–94,5%, di sepanjang jalur aliran sungai.
GEOGRAFIS HABITAT
Sulawesi
NILAI SPESIES
Nilai Ekologi
Buah Etlingera aulocheilos terutama yang sudah matang, menjadi sumber makanan beberapa fauna di sekitarnya seperti tupai dan hewan pemakan biji lainnya. Selain itu pada pengamatan beberapa habitat, ditemukan adanya interaksi Etlingera aulocheilos dengan fauna kecil seperti serangga, artropoda dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa spesies ini menjadi sumber daya maupun mikrohabitat bagi beragam organisme di sekitarnya, sehingga keberadaannya dapat berkontribusi pada ekologis dalam komunitas setempat.
Nilai Sosial Budaya
Tidak teridentifikasi.
Nilai Ekonomi
Masyarakat lokal di Sulawesi umumnya mengonsumsi buah Etlingera termasuk Etlingera aulocheilos pada bagian aril yang melindungi biji, daun muda pada pucuk dapat dimasak dan dimakan, beberapa bagian tumbuhan seperti pucuk daun dan rimpang digunakan untuk pengobatan tradisional baik untuk penyakit internal seperti demam dan penyakit hati maupun penyakit eksternal seperti nyeri lutut atau kudis (Poulsen 2012).
SUMBER
Gambar Utama: @daniksnnn


Leave a Reply