Craspedocephalus puniceus

(Ashy Pit Snake)

Craspedocephalus puniceus (sinonim: Trimeresurus puniceus) merupakan spesies ular beludak berbisa tinggi dan berbahaya yang bersifat semi-arboreal serta endemik di wilayah Jawa dan Sumatra, Indonesia. Ular ini memiliki variasi warna dan corak yang sangat beragam sebagai bentuk adaptasi kamuflase terhadap lingkungan sekitarnya.

Author

Keumala Putri Elwi
Researcher in IPB SSRS Association

Gambar
Vegetasi hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak


Lokal
Ular Bandotan Pohon

Penemu
Boie 1827

Nasional
Ular Bandotan Pohon

Internasional
Javanese Pit Viper, Ashy Pit Viper, Flat-nosed Pit Viper


Nasional
Tidak dilindungi

IUCN Red List 2022
Least Concern

Nasional, KLHK
Tidak ada

CITES
Tidak dinilai


Kingdom
Animalia

Ordo
Squamata

Phylum
Chordata

Famili
Viperidae

Kelas
Reptilia

Genus
Craspedocephalus


Bagian Kepala
Kepala berbentuk segitiga yang jelas dan lebih lebar daripada leher, berwarna abu-abu gelap, serta ditutupi oleh sisik-sisik kecil tumpang tindih (imbricate) yang berlunas halus. Bagian wajah menampilkan canthus rostralis dan tonjolan (ridge) yang sangat jelas dari mata hingga moncong, serta memiliki lubang loreal (loreal pits) di antara mata dan hidung. Moncongnya memipih (flattened snout), berbentuk runcing yang mengarah ke atas, serta tampak terpotong miring secara tajam jika dilihat dari samping.

Bagian Tubuh
Tubuh berukuran sedang, ramping, dan memanjang; individu betina dewasa bertubuh lebih gemuk dan panjang dibandingkan jantan. Sisik dorsal berlunas (keeled) halus dengan jumlah baris yang berkurang secara bertahap ke arah anterior dan posterior, serta memiliki perisai anal utuh (entire/undivided). Pola warna keseluruhan didominasi abu-abu gelap dengan bercak gelap dan pita melintang (crossbands) berwarna putih pucat.

Bagian Ekor
Ekor berukuran relatif pendek, sedikit memipih secara lateral (compressed), dan bersifat prehensil (dapat menggenggam). Bagian bawahnya memiliki sepasang sisik subkaudal yang terbagi (divided) di sepanjang sebagian besar panjang ekor, dengan ujung ekor berwarna merah bata yang kontras. Terdapat dimorfisme seksual yang jelas yaitu individu betina memiliki ekor yang lebih tipis dan pendek tanpa tonjolan hemipenis (hemipenial bulge), sedangkan individu jantan memiliki ekor yang lebih tebal dan panjang dengan tonjolan hemipenis yang nyata.


Hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan


Asia Tenggara dan Indonesia


Nilai Ekologi
Tidak teridentifikasi

Nilai Sosial Budaya
Tidak teridentifikasi

Nilai Ekonomi
Tidak teridentifikasi


Gambar Utama: @KeumalaPutri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *